Senin, 14 Juli 2008

Kondisi Pengungsi Korban Kebakaran Pelita

WAKTU sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, malam setelah terjadinya peristiwa kebakaran di kawasan pengingapan sekitar Pelita. Terlihat sebagian besar korban kebakaran yang ada di posko pengungsi terlelap.

Sesekali, mereka terbangun dan mengubah posisi tidur. Banyak diantaranya adalah wanita. Mereka mengungsi tepat di belakang lokasi kebakaran, di lantai dasar satu gedung kosong yang terdapat di kawasan Pulau Lestari.

Terpal biru mengelilingi pengungsi untuk melindungi tidur mereka dari hembusan angin malam. Mereka beralaskan tempat tidur yang berbentuk seperti tandu dan badan beberapa dari pengungsi tertutup selimut bantuan dari Dinsos.

Bantuan, baik berupa uang, pakaian bekas dan mie instant dari warga terus mengalir. Hingga pukul 00.00, uang yang ada sekitar Rp 13,2 juta. Satu tempat tidur disiapkan untuk tempat tumpukan pakaian bekas. Namun, belum tersedia air panas ketika seorang pengungsi ingin memakan mi

Rafi, bayi berusia tiga bulan masih terjaga sekitar pukul 00.30. "Ia terbangun karena kepanasan, di sini lembab, tapi untung ada susu bayi yang diberikan Dinsos," ujar ibunya seraya mengipasi dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu.

Sepasang suami istri, Tono dan Wati, masih terjaga dan bertemu dengan kerabat mereka. Dalam pembicaraan itu, Wati, masih trauma dengan kejadian yang menimpanya. Ia kost di satu penginapan yang habis terbakar. Suaminya, masih ada di kantornya PT Citra Buana karena tugas malam.

Wati nyaris menjadi korban kalau saja tidak mendengar orang-orang berteriak kebakaran."Biasanya, saya terbiasa mendengar orang bertengkar hampir setiap hari, tapi pagi ini teriakannya berbeda dan sangat keras," jelas perempuan dengan kata yang masih terbata-bata.

Ia langsung berlari dalam kegelapan dan sudah terdapat asap di mana-mana. Wati juga harus berebutan dan berdesakan dengan yang lain untuk turun karena kamarnya terdapat di lantai dua. Hanya pakaian yang melekat di tubuhnya yang mampu diselamatkan. Surat-surat berharga yang dimilikinya, musnah dalam kobaran api.

Suaminya baru datang di lokasi sekitar setengah jam setelah terjadinya kebakaran. Ia langsung mencari istrinya dengan penuh harap. "Semua surat penting musnah, yang penting istri saya selamat," ujarnya seraya memandang ke arah Wati dengan senyum.

Sebenarnya, data yang tertulis ada 165 orang, tetapi sebagian besar mengungsi di tempat saudara mereka. "Sekarang sekitar 60 orang yang tidur di sini," jelas Ketua RW 13 Bukit Lestari, Hardiman, yang malam itu menjadi penanggungjawab tempat pengungsian.


Selain ditemani warga, terlihat petugas dari satpol PP Lubuk Baja, Babinkantibnas, Babinsa Nagoya, dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang ikut menjaga malam.

Lokasi dijaga
Beberapa pemuda, tampak mondar-mandir di depan lokasi kebakaran yang masih terdapat kepulan asap dari beberapa titik api yang menyala. Mereka membawa sepotong besi dan senter, maklum, lokasi kebakaran tidak ada penerangan.

Tatapan mereka tajam melihat setiap orang yang mencoba memasuki tali yang dibuat di sekeliling lokasi. Mereka berkumpul di dua pos yang dibikin dari pukul 20.00. "Kita akan berjaga selama 24 jam untuk mengamankan lokasi dari pemulung dan orang yang tidak bertanggungjawab," jelas ketua pemuda setempat, Joko pada Tribun.

Sekitar pukul 01.15, beberapa penjaga baik yang di pengungsian maupun lokasi kebakaran terkejut karena ditemukannya sepotong kaki tepat di depan pos keamanan. Lokasi tersebut sama dengan penemuan mayat Edi Tobing, satu korban tewas.

Joko membenarkan penemuan kaki tersebut. "Kita hanya menutupinya dengan kain, biar tidak kena hujan," ujar pria berambut gondrong ini. (agg)

Tidak ada komentar: