Sabtu, 12 Juli 2008

7 Staff Nyaris Terbakar

BATAM, TRIBUN- Di tengah terlelapnya penduduk Batam dipagi hari, tujuh orang berusaha menyelamatkan nyawa mereka dari kobaran api dan nyaris menjadi korban kebakaran digedung dept store Barata pada Jumat (11/7) sekitar pukul 04.00 WIB.

Mereka terdiri dari dua pria dan lima perempuan yang tinggal di mess yang terdapat di lantai 3 gedung Barata. Mereka adalah Iwa, Amel, Siti, Feby, Hafsa, Roy, dan Joh.

Joh, menceritakan dirinya dan keenam kawannya ketika menghadapi situasi panik. Ia dan seorang teman sekamarnya, Roy, nyaris menjadi korban jika pintu kamarnya tidak digedor-gedor Hafsa, manajer store Barata. "Kami tidak t+ahu seandainya Hafsa tidak menggedor pintu kamar kami," ujar Joh.

Ketika keduanya terbangun, mereka panik karena asap sudah memenuhi ruangan mereka. Namun, dalam kepanikan tersebut, mereka masih menyempatkan diri untuk mematikan lampu mess dan lampu luar gedung. "Setelah lampu kami matikan, terdengar beberapa kali letupan beruntun, taktaktak," jelas Joh seraya menirukan bunyi letupan yang didengarnya.

Kepulan asap yang semakin tebal dan hitam membuat keduanya tidak sempat menyelamatkan barang- barang berharga lainnya. Joh sempat melihat beberapa lampu di sekitar mess pecah secara beruntun. Karena kunci pintu di bawa Roy, maka keduanya menuju lantai bawah untuk membuka pintu yang telah ditunggui kelima perempuan yang sudah ke bawah terlebih dahulu.

"Dalam hitungan menit, asap sudah tebal dan hitam. Kami berdua juga sudah sesak nafas," kisah Roy. Mereka berdua langsung berlari menuju lantai bawah. Joh berlari walaupun hanya menggunakan kaos sport dan celana jins hitam.

Mereka semua berhasil keluar dengan selamat meskipun hanya tinggal memiliki baju dan celana yang dikenakan. Yang mereka takutkan saat itu adalah pecahan-pecahan kaca yang bertebaran di mana- mana.

Ijazah habis terbakar
Joh mengaku hanya mampu menyelamatkan ponsel dan dompetnya yang berisi uang yang hanya cukup untuk membeli rokok. Bahkan, ATM yang ia miliki hanya mampu untuk membeli makan selama tiga hari. "Total kerugian uang dan barang yang saya miliki sekitar Rp 4 juta," jelas pria berusia 24 tahun ini.

Namun, ia merasa lebih rugi karena ijazahnya dari tingkat SD-SMA habis terbakar, termasuk akte kelahiran. Ijazah pelatihan, sebagai modalnya melamar pekerjaan juga tidak luput, ikut terbakar.

Roy juga hanya mampu menyelamatkan ponsel dan dompetnya. "Uang saya di ATM sisa seratusan ribu, dompet saya tidak ada uangnya," ujar Roy seraya memperlihatkan dompetnya yang hanya berisi kartu-kartu nama. Ia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 3 juta.

"Uang bisa di cari, kalau ijazah susah carinya, Mas," kata Joh yang saat ditemui berada di polsek Batam Kota untuk melaporkan terbakarnya ijazah yang ia miliki.


Terdengar letusan beruntun
Awal tersulutnya api, menurut saksi mata, Amirustam, mengatakan mendengar letusan dari lantai tiga, tepat di depan pos jaga sekitar pukul 04.00. Ia yang saat itu menjaga Barata bersama dengan Naek Siregar tidak mampu masuk dalam gedung karena mereka tidak membawa kunci pintu.

"Saya kaget, tetapi tidak bisa masuk dan tidak mampu berbuat apa-apa ketika api terlihat semakin besar, apalagi di dalam banyak kain-kain yang mudah terbakar," jelas Amirustam. Menurutnya, letusan tersebut dari instalasi listrik yang ada di sekitar atap gedung.

Namun, jika terjadi akibat arus pendek, dibantah Joh sebagai teknisi Barata. "Kalau akibat arus pendek, kenapa lampu luar dan lampu mess masih menyala?" terangnya. Karena arus pendek membuat semua aliran listrik akan mati.

Kapolsek Batam Kota, AKP Robertus Hery yang menangani kebakaran ini mengatakan, polisi belum melakukan penyelidikan terjadinya kebakaran. "Kita baru melakukan pengamanan agar tidak terjadi penjarahan, apalagi ada ATM BCA," jelasnya kepada Tribun. Ia juga menambahkan masih menunggu kedatangan pengelola Batara dari Jakarta.

Total kerugian untuk sementara sekitar Rp 10 miliar. "Itu masih secara global yang dihitung pihak Barata," lanjut Kapolsek.

Dari pantauan Tribun, kebakaran ini nyaris membakar seluruh isi gedung. Hanya terlihat sisa barang di lantai satu sisi kiri gedung yang memang tidak terbakar. Api berhasil di padamkan sekitar pukul 07.30 setelah pemadam kebakaran mengerahkan 8 unit mobil pemadam.

Untuk mencapai lantai tiga, petugas menggunakan mobil yang dilengkapi dengan telecopic lift (tangga pemadam kebakaran otomatis untuk gedung bertingkat). Serpihan reruntuhan dinding gedung dan beberapa letupan kecil sempat membuat panik petugas pemadam dan beberapa warga maupun pemilik toko yang melihat kebakaran.

Sekitar pukul 13.00, masih terlihat kepulan asap di lantai tiga di sisi kiri gedung. saat beberapa pemilik toko di lantai satu mengeluarkan sisa barang mereka.

Bingung cari kerja
Tampak seorang wanita berdiri di sisi kiri gedung bersama seorang kawannya. Tatapannya terlihat kosong. Ia bernama Suci, seorang karyawan toko kemeja pria di gedung Barata. "Saya bingung cari kerja di mana lagi, padahal baru enam bulan bekerja di sana," ujarnya seraya menunjuk Barata yang terbakar.

Ia mengaku menunggu kebijakan dari pemilik toko, apalagi empat hari mendatang, Suci menerima gaji. "Wah, sudah tidak pakai baju putih dan rok hitam lagi, tapi saya masih punya kewajiban beresin laporan dulu" ujarnya.

Lain lagi Syahrir, adik seorang pemilik tiga petak toko di lantai dua gedung Barata. "Kakak saya namanya Kindo atau biasa dipanggil pak haji, pemilik toko yang menjual sepatu, sandal, tas, dan pakaian sekolah. Kemungkinan kerugian sekitar Rp 100 juta," jelas pria yang juga mengaku istrinya kerja di satu toko di Barata.

Yang mampu diselamatkan adalah sebuah kotak infaq yang terbuat dari kaca, seukuran 50cm x 20 cm yang berisi beberapa lembar uang ribuan, yang ada di toko kakaknya. "Diselamatkan petugas pemadam kebakaran, infaq itu akan di berikan untuk pesantren di daerah Padang," ujar pria yang mengaku sering dipanggil dengan Jotri ini. (agg)

Tidak ada komentar: